Artikel Terbaru
Zakat Bisa Menjadi Pengurang Pajak
Marhaban Ya Ramadan ????
Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Berdasarkan data terbaru, sekitar 245.973.915 jiwa atau 87,08% dari total populasi Indonesia beragama Islam. Karena itu, kehadiran bulan suci Ramadan selalu menjadi momen yang sangat dinantikan oleh umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan kepedulian sosial.
Salah satu ibadah penting yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial adalah zakat.
Zakat dalam Islam
Dalam ajaran Islam terdapat dua jenis zakat utama, yaitu zakat fitrah dan zakat mal (zakat harta).
Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim menjelang Hari Raya Idulfitri. Tujuannya adalah untuk menyucikan jiwa orang yang berpuasa sekaligus membantu kaum fakir miskin agar dapat merasakan kebahagiaan di hari raya. Besaran zakat fitrah setara dengan 1 sha’ makanan pokok atau sekitar 2,5–3 kg beras.
Selain zakat fitrah, umat Islam juga memiliki kewajiban menunaikan zakat mal, yaitu zakat atas harta yang telah memenuhi nisab (batas minimal harta) dan haul (kepemilikan selama satu tahun). Jenis zakat mal di antaranya meliputi:
Zakat penghasilan atau zakat profesi
Zakat emas dan perak
Zakat perdagangan
Zakat pertanian
Zakat peternakan
Zakat investasi
Zakat rikaz (harta temuan)
Zakat Dapat Menjadi Pengurang Pajak
Banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa zakat yang dibayarkan melalui lembaga resmi dapat menjadi pengurang penghasilan kena pajak.
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak memberikan fasilitas ini sebagai bentuk pengakuan terhadap kewajiban keagamaan masyarakat. Ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 9 ayat (1) huruf g Undang-Undang Pajak Penghasilan yang terakhir diperbarui melalui UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan.
Dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa:
Zakat yang dibayarkan oleh wajib pajak orang pribadi Muslim atau oleh badan usaha, melalui lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
Artinya, zakat tidak langsung mengurangi pajak yang harus dibayar, tetapi mengurangi penghasilan yang menjadi dasar perhitungan pajak. Dengan demikian, nilai Pajak Penghasilan (PPh) yang harus dibayarkan menjadi lebih kecil.
Syarat Zakat Bisa Menjadi Pengurang Pajak
Agar zakat dapat dimanfaatkan sebagai pengurang pajak, terdapat dua syarat utama:
Zakat dibayarkan oleh wajib pajak (orang pribadi atau badan).
Zakat disalurkan melalui lembaga resmi yang dibentuk atau disahkan pemerintah, seperti BAZNAS atau LAZ resmi.
Selain itu, bukti pembayaran zakat harus disimpan dan dapat dilampirkan saat pelaporan SPT Tahunan.
Manfaat Membayar Zakat Melalui Lembaga Resmi
Menunaikan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS memiliki banyak manfaat, di antaranya:
? Menunaikan kewajiban agama secara benar ? Mendapatkan bukti setor zakat resmi untuk pengurang pajak ? Membantu penyaluran zakat lebih tepat sasaran kepada 8 golongan penerima zakat (asnaf) ? Berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat
Dengan memahami ketentuan ini, umat Islam dapat menjalankan kewajiban ibadah sekaligus memperoleh manfaat fiskal secara sah. Membayar zakat melalui lembaga resmi tidak hanya membantu meringankan beban pajak, tetapi juga memperkuat peran zakat dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Mari menjadi muzaki yang cerdas, taat agama, dan taat pajak, dengan menunaikan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Tulang Bawang Barat agar manfaatnya semakin luas bagi umat.
Sumber Referensi : https://www.pajak.go.id/id/artikel/zakat-bisa-jadi-pengurang-pajak
ARTIKEL11/03/2026 | Samsul
Mengapa 14 Karat? Memahami Dasar Penetapan Nisab Zakat Penghasilan
Zakat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan instrumen keadilan sosial dalam Islam. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul di tengah masyarakat adalah: mengapa nisab zakat penghasilan disetarakan dengan 85 gram emas, dan mengapa standar emas yang digunakan sering merujuk pada 14 karat?
Pertanyaan ini penting dijawab agar muzaki (pembayar zakat) memahami bahwa setiap ketentuan memiliki dasar syar’i dan pertimbangan kemaslahatan.
Landasan Regulasi: 85 Gram Emas
Dalam Peraturan Menteri Agama Nomor 31 Tahun 2019 serta Majelis Ulama Indonesia melalui Fatwa Nomor 3 Tahun 2003, nisab zakat pendapatan ditetapkan setara 85 gram emas.
Namun, regulasi tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan jenis atau kadar (karat) emas yang digunakan sebagai standar. Di sinilah peran ijtihad kelembagaan menjadi penting.
Mengapa 14 Karat?
Karena tidak ada ketentuan spesifik tentang kadar emas dalam PMA, maka Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menetapkan standar emas dengan mempertimbangkan prinsip kemaslahatan bagi mustahik dan muzaki.
Dalam praktiknya, emas yang beredar di masyarakat memiliki kadar yang beragam, mulai dari 12 karat, 14 karat, 18 karat hingga 24 karat. Untuk memastikan keadilan dan konsistensi, digunakan pendekatan kaidah fikih:
“Al-hukmu lil ghalib” — hukum mengikuti yang dominan.
Kaidah ini dikenal dalam mazhab Hanafi, yang menyatakan bahwa sesuatu dinilai berdasarkan kondisi yang paling umum atau dominan di masyarakat. Jika suatu logam memiliki kandungan emas minimal 50% (setara 12 karat), maka ia telah masuk kategori emas secara hukum dan wajib dizakati berdasarkan berat totalnya.
Dengan demikian, penetapan 14 karat bukan tanpa dasar. Ia berada di atas ambang minimal 50%, sehingga secara fikih memenuhi kategori emas yang sah untuk perhitungan nisab, sekaligus mencerminkan kadar emas yang cukup representatif di pasaran.
Nisab Zakat Penghasilan Tahun 2026
Untuk tahun 2026, Badan Amil Zakat Nasional RI menetapkan nisab zakat penghasilan dan jasa sebesar:
Rp7.640.144 per bulan
Rp91.681.728 per tahun
Nilai tersebut setara dengan 85 gram emas dan mengalami kenaikan sekitar 7% dibandingkan tahun 2025. Kenaikan ini masih selaras dengan pertumbuhan upah tahunan nasional sebesar 6,17 persen, sehingga tetap menjaga keseimbangan antara kemampuan muzaki dan kebutuhan mustahik.
Menjaga Kemaslahatan Bersama
Penetapan standar nisab bukan sekadar angka administratif. Ia adalah bentuk tanggung jawab moral dan sosial agar zakat benar-benar menjadi solusi kemiskinan dan ketimpangan.
Dengan menggunakan pendekatan fikih yang kuat dan mempertimbangkan realitas ekonomi, BAZNAS berupaya menjaga dua sisi sekaligus:
Melindungi hak mustahik agar tidak berkurang akibat standar yang terlalu rendah.
Memberikan kepastian hukum bagi muzaki agar dapat menunaikan kewajiban dengan tenang dan terukur.
Pada akhirnya, zakat adalah tentang keberkahan. Ketika aturan dipahami dengan benar, maka ibadah tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Semoga pemahaman ini menambah keyakinan kita bahwa setiap ketetapan dalam syariat selalu berpijak pada hikmah dan kemaslahatan umat.
Oleh: Samsul Mungin
ARTIKEL03/03/2026 | Samsul
Bulan Sya’ban Saat Amal Diangkat, Saat Hati Diketuk untuk Berbagi.
Bulan Sya’ban sering datang dengan tenang, nyaris tak terasa. Ia berada di antara Rajab dan Ramadhan—dua bulan yang kerap lebih disorot. Namun justru di bulan inilah, Rasulullah ? memperbanyak amal ibadah dan kepedulian sosial.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah ? bersabda bahwa Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah SWT. Maka, beliau senang ketika amalnya diangkat dalam keadaan berpuasa dan penuh kebaikan. Ini menjadi pengingat bagi kita semua: sebelum Ramadhan menyapa, masih ada waktu untuk membersihkan niat dan memperbanyak amal nyata.
Sya’ban: Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Ringan
Sya’ban bukan hanya soal ibadah personal, tapi juga tentang bagaimana kita hadir bagi sesama. Di sekitar kita, masih banyak saudara yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar—dari biaya kesehatan, pendidikan anak-anak, hingga kebutuhan pangan harian.
Di bulan yang penuh keberkahan ini, zakat, infak, dan sedekah menjadi jalan sederhana namun bermakna untuk meringankan beban mereka. Apa yang kita anggap kecil, bisa jadi sangat besar bagi yang membutuhkan.
Mengalirkan Kebaikan Lewat BAZNAS Tulang Bawang Barat
BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat hadir sebagai jembatan amanah, menghubungkan kepedulian para muzaki dengan mustahik yang benar-benar membutuhkan. Setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran—mulai dari program kesehatan, pendidikan, kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi umat.
Dengan menunaikan zakat dan memperbanyak infak serta sedekah melalui BAZNAS Tulang Bawang Barat, kita bukan hanya menjalankan kewajiban, tetapi juga ikut menanam harapan dan menguatkan persaudaraan.
Saatnya Mengetuk Pintu Langit dengan Kepedulian
Bulan Sya’ban adalah momentum. Saat amal diangkat, mari pastikan di dalamnya ada jejak kepedulian. Jangan menunggu kaya untuk berbagi, karena keberkahan justru lahir dari keikhlasan.
Mari sambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan tangan yang ringan memberi. Zakat, infak, dan sedekah Anda hari ini, bisa menjadi senyum dan doa bagi saudara kita esok hari.
Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat. Karena dari Sya’ban, kebaikan kita dilangitkan.
ARTIKEL29/01/2026 | Samsul
Rajab Ketika Langit Membuka Pintu Ampunan dan Hati Dipanggil untuk Kembali
Di antara dua belas bulan yang Allah tetapkan, ada bulan-bulan mulia yang kehadirannya bukan sekadar pergantian waktu, tetapi undangan lembut dari langit agar manusia kembali menata hati. Salah satunya adalah bulan Rajab — bulan yang sering kita lewati begitu saja, padahal ia termasuk bulan yang dimuliakan Allah.
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.” (QS. At-Taubah: 36)
Para ulama sepakat bahwa empat bulan haram itu adalah Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan-bulan ini Allah muliakan agar manusia lebih menjaga diri dari dosa dan lebih giat menanam kebaikan.
Namun, Rajab bukan sekadar bulan haram. Ia adalah gerbang menuju Ramadhan, bulan latihan hati sebelum kita memasuki madrasah besar penuh ampunan.
Rasulullah ? sering berdoa ketika memasuki bulan ini:
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya‘ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)
Doa ini bukan hanya permohonan umur panjang, tetapi juga harapan agar hati disiapkan, iman dikuatkan, dan amal ditingkatkan.
Rajab, Waktu Menyembuhkan Hati
Betapa sering kita lalai. Shalat yang tergesa, sedekah yang jarang, doa yang hambar. Rajab datang seakan mengetuk pintu hati kita: “Masihkah engkau ingin kembali sebelum terlambat?”
Inilah saat terbaik untuk memulai taubat, membersihkan niat, dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.
Rasulullah ? bersabda:
“Setiap anak Adam pasti banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Rajab mengajarkan kita satu hal penting: tidak ada kata terlambat untuk kembali.
Menanam Amal di Bulan Mulia
Pada bulan yang dimuliakan ini, pahala kebaikan dilipatgandakan, dan dosa terasa lebih berat. Maka betapa ruginya jika Rajab berlalu tanpa bekas amal.
Allah berfirman:
“Apa saja kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatkannya di sisi Allah.” (QS. Al-Baqarah: 110)
Salah satu amal paling indah di bulan ini adalah sedekah. Sedekah bukan hanya membersihkan harta, tetapi juga menyembuhkan luka orang lain, menguatkan yang lemah, dan menghidupkan harapan.
Rasulullah ? bersabda:
“Sedekah dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
Kesempatan Memperbaiki Arah Hidup
Bulan Rajab bukan bulan perayaan, tetapi bulan perenungan. Tentang usia yang terus berkurang, tentang amal yang belum seberapa, tentang kematian yang semakin dekat.
Jika Ramadhan adalah musim panen, maka Rajab adalah musim menanam.
Mari kita isi Rajab dengan:
Taubat yang sungguh-sungguh
Shalat sunnah yang istiqamah
Sedekah yang tulus
Doa yang panjang
Hati yang kembali lembut
Wahai hati, jangan biarkan Rajab berlalu tanpa makna. Mungkin inilah Rajab terakhir kita. Mungkin inilah kesempatan terakhir untuk berubah.
Semoga Allah menjadikan bulan Rajab sebagai awal kebangkitan iman kita, membersihkan dosa-dosa kita, dan menyampaikan kita dalam keadaan terbaik menuju bulan Ramadhan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Oleh : Samsul Mungin
ARTIKEL20/01/2026 | Samsul
Warisan Gus Dur dan Zakat Negara Ketika Ibadah Menjadi Harapan Bangsa
Dua puluh lima tahun lalu, bangsa ini mencatat sebuah langkah penting yang kerap luput dari sorotan publik. Melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2001, Presiden Republik Indonesia ke-4, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), meletakkan fondasi berdirinya Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebagai institusi negara dalam pengelolaan zakat. Bagi saya, keputusan ini bukanlah kebijakan biasa, melainkan warisan pemikiran besar tentang bagaimana agama dihadirkan secara nyata dalam kehidupan berbangsa.
Gus Dur memahami bahwa zakat tidak berhenti sebagai ritual personal antara manusia dan Tuhan. Ia melihat zakat sebagai kekuatan sosial yang dapat menjawab problem ketimpangan, kemiskinan struktural, dan keterbatasan akses ekonomi umat. Dalam pandangannya, negara memiliki peran penting untuk memastikan nilai-nilai keagamaan bekerja secara sistemik demi keadilan sosial.
Sebagaimana pesan Gus Dur yang hingga kini terus bergema,
“Agama harus menjadi sumber etika sosial, bukan alat konflik.”
Melalui pendirian BAZNAS, Gus Dur menerjemahkan pesan tersebut ke dalam kebijakan nyata. Zakat ditempatkan bukan sekadar sebagai kewajiban individu, tetapi sebagai instrumen kolektif yang dikelola secara profesional, terukur, dan berdampak luas bagi masyarakat.
Langkah ini menunjukkan keberanian berpikir yang melampaui zamannya. Gus Dur menempatkan nilai agama di simpul strategis antara moralitas, keadilan sosial, dan pembangunan nasional. Zakat tidak hanya dikumpulkan, tetapi dikelola dengan akuntabilitas, tanpa kehilangan ruh spiritualnya. Inilah wajah Islam yang inklusif, membumi, dan berpihak pada kemanusiaan.
Gus Dur pernah mengingatkan,
“Yang lebih penting dari simbol-simbol keagamaan adalah bagaimana nilai agama itu menghadirkan keadilan dan kemanusiaan.”
Dalam konteks hari ini, ketika tantangan ekonomi semakin kompleks dan kesenjangan sosial masih nyata, pemikiran Gus Dur justru terasa semakin relevan. Zakat bukan hanya soal kepatuhan individu, melainkan tanggung jawab kolektif membangun bangsa yang berkeadilan. Negara, masyarakat, dan lembaga keagamaan perlu terus menjaga visi besar ini agar zakat benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar simbol.
Warisan Gus Dur mengajarkan bahwa agama dan negara tidak harus dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling menguatkan ketika nilai spiritual diterjemahkan menjadi kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil. Di situlah zakat menemukan makna sejatinya—sebagai ibadah yang hidup, bergerak, dan menyalakan harapan.
Sebagaimana kata Gus Dur yang sangat manusiawi dan mendalam,
“Memuliakan manusia berarti memuliakan kehidupan.”
Dan melalui zakat yang dikelola dengan amanah, pesan itu terus hidup—mengalir dari para muzaki, menguatkan mustahik, dan menjadi denyut kepedulian bangsa.
Artikel Opini By: Samsul Mungin
ARTIKEL19/01/2026 | Samsul
Kunci Rezeki, Penolak Bala, dan Jalan Menuju Keberkahan Hidup
Pernahkah kita merasa rezeki terasa sempit, hati gelisah, dan hidup penuh ujian? Padahal bisa jadi, Allah sedang menunggu satu amal sederhana dari kita: sedekah.
Sedekah bukan sekadar memberi, tapi mengundang pertolongan Allah. Ia tidak mengurangi harta, justru membuka pintu rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.
Rasulullah ? bersabda:
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
1. Sedekah Melipatgandakan Rezeki
Allah menjanjikan balasan luar biasa bagi orang yang bersedekah:
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Satu sedekah bisa Allah balas hingga 700 kali lipat atau lebih.
2. Sedekah Menghapus Dosa
Rasulullah ? bersabda:
“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
Ketika kita bersedekah, bukan hanya orang lain yang terbantu, diri kita pun sedang disucikan.
3. Sedekah Menolak Bala dan Musibah
Dalam hadis disebutkan:
“Bersegeralah bersedekah, karena musibah tidak akan mampu mendahuluinya.” (HR. Baihaqi)
Sedekah adalah tameng dari bencana, baik yang terlihat maupun yang tidak kita sadari.
4. Sedekah Menjadi Naungan di Hari Kiamat
Rasulullah ? bersabda:
“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)
Saat tidak ada perlindungan kecuali rahmat Allah, sedekahlah yang menjadi pelindung kita.
Kini bersedekah tidak lagi sulit. Melalui BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat, sedekah Anda akan disalurkan secara amanah, profesional, dan tepat sasaran kepada fakir miskin, anak yatim, dhuafa, dan masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Sedekah Anda:
Menjadi makan bagi yang lapar
Menjadi obat bagi yang sakit
Menjadi harapan bagi yang hampir putus asa
Jangan tunda kebaikan. Karena kita tidak pernah tahu, sedekah hari ini bisa menjadi penyelamat kita di akhirat nanti.
“Apa yang ada di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.” (QS. An-Nahl: 96)
Mari raih keberkahan hidup dengan bersedekah melalui BAZNAS Tulang Bawang Barat. Sedikit dari kita, sangat berarti bagi mereka.
ARTIKEL13/01/2026 | Samsul
Duka dan Bahaya di Sumatera Saatnya Aksi, Bukan Sekadar Simpati
Gemuruh alam kembali menggetarkan tanah Sumatera. Langit yang gelap selama berhari-hari memuntahkan hujan tanpa belas kasihan. Sungai yang dulu menenangkan kini berubah menjadi monster yang mengamuk, merobek jembatan, menghanyutkan rumah, dan membawa serta apa pun yang dilewatinya. Longsor turun dari tebing-tebing tinggi, menelan jalan, menutup desa, dan menimbun harapan.
Di balik kabut tebal dan suara sirene peringatan, bahaya itu terasa begitu dekat—seakan mengingatkan bahwa kehidupan manusia bisa runtuh hanya dalam hitungan menit. Getaran tanah, air bah yang tiba-tiba naik, angin yang memekakkan telinga, semuanya berpadu membentuk kenyataan pahit: manusia terlalu kecil di hadapan kekuatan alam.
Di tengah suara tangis anak-anak, teriakan warga meminta tolong, dan langkah kaki relawan yang tak kenal lelah, kita melihat sisi paling rapuh dari kehidupan. Seorang ayah berlari membawa anaknya menembus derasnya lumpur, seorang ibu memeluk bayi yang kedinginan, sementara lansia terduduk diam, kehilangan tempat berlindung dan tak tahu harus ke mana lagi. Di tempat lain, warga yang selamat berdiri gemetar, tidak hanya karena dingin, tetapi karena ketakutan akan datangnya bencana susulan.
Bahaya itu nyata. Bahaya itu merenggut. Bahaya itu menyisakan luka yang tak langsung terlihat—luka dalam hati, luka kehilangan, luka ketidakberdayaan.
Namun di balik gelapnya suasana, ada sesuatu yang lebih kuat dari bencana: kemanusiaan. Ketika bahaya menyentuh Sumatera, hati kita seharusnya ikut tersentuh.
Kita tidak bisa menahan derasnya hujan. Kita tidak bisa menghentikan tanah longsor. Tapi kita bisa melakukan sesuatu yang lebih besar: menjadi penerang bagi mereka di tengah gelapnya musibah.
Mereka membutuhkan:
Makanan agar bisa bertahan hari ini.
Selimut dan pakaian kering agar terhindar dari penyakit.
Obat-obatan agar luka-luka segera pulih.
Tempat berlindung agar malam tidak kembali membawa ketakutan.
Uluran empati agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi bahaya ini.
Donasi bukan hanya memberi bantuan. Donasi adalah tanda bahwa kita masih memiliki nurani. Bahwa ketika saudara kita berada dalam ancaman, kita tidak tinggal diam.
Bahaya telah menyentuh Sumatera. Sekarang, biarkan kepedulian kita menyentuh mereka. Mari bergerak, mari menyelamatkan, mari membantu mereka berdiri kembali.
Ayo berdonasi melalui BAZNAS Tubaba—karena satu tindakan kecil Anda bisa menjadi penyelamat besar bagi mereka yang sedang berjuang melawan bencana.
Salurkan ke :
BANK : BSI
NO Rek : 9997989691
An. BAZNAS TUBABA Tanggap BENCANA
Atau melalui kantor digital berikut : www.baznastubaba.my.id/donasi/donasibencana
ARTIKEL10/12/2025 | Samsul
Keberkahan Puasa Senin Kamis Amalan Sunnah yang Sarat Doa dan Keutamaan
Puasa Senin–Kamis adalah salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Amalan ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi jalan untuk memperbanyak doa, memperhalus jiwa, serta mengundang rahmat Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari.
Dalil Dianjurkannya Puasa Senin–Kamis
Rasulullah SAW bersabda:
“Amal perbuatan manusia diperiksa pada hari Senin dan Kamis. Maka aku sangat suka ketika amal perbuatanku diperiksa, aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga menyampaikan alasan lain mengapa beliau senang berpuasa pada hari Senin:
“Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau diturunkannya wahyu kepadaku.” (HR. Muslim)
Dari dua hadis ini, terlihat bahwa puasa Senin–Kamis bukan hanya tentang ibadah personal, tetapi juga mengikuti sunnah yang sangat dicintai Rasulullah SAW.
Doa Puasa Senin–Kamis
Niat Puasa Senin–Kamis (dibaca malam hari): “Nawaitu shauma yaumil itsnaini sunnatan lillahi ta‘ala.” (Aku niat puasa hari Senin, sunnah karena Allah Ta’ala.) atau “Nawaitu shauma yaumil khomiisi sunnatan lillahi ta‘ala.” (Aku niat puasa hari Kamis, sunnah karena Allah Ta’ala.)
Doa Berbuka Puasa: “Dzahabazh-zhama’ wabtallatil ‘uruq wa tsabatal ajru insyaAllah.” “Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan telah ditetapkan pahala, insyaAllah.”
Keutamaan Puasa Senin–Kamis
Pintu Doa Lebih Terbuka Ketika seseorang berpuasa, hatinya lebih tenang, lisannya lebih terjaga, dan doanya lebih khusyuk.
Peluang Diampuni Dosa Puasa adalah tameng dari perbuatan buruk dan media penyucian diri dari dosa kecil.
Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW Dengan rutin berpuasa Senin–Kamis, seorang muslim mengikuti amalan yang sangat dicintai oleh Nabi.
Meningkatkan Kualitas Spiritual dan Kesabaran Aktivitas menahan diri melatih kesabaran dan keteguhan hati.
Penutup: Amalan Puasa dan Kebaikan Sosial
Ibadah puasa bukan hanya mengajarkan kesabaran, tetapi juga menumbuhkan kepekaan terhadap sesama. Ketika kita merasakan lapar dan dahaga, kita semakin memahami bahwa di luar sana masih banyak saudara yang membutuhkan uluran tangan.
Oleh karena itu, marilah kita sempurnakan ibadah sunnah kita dengan memperbanyak sedekah, infak, dan zakat. Melalui BAZNAS Tulang Bawang Barat, kebaikan Anda akan dikelola secara amanah, tepat sasaran, dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Ayo tunaikan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Tubaba - bersama kita menghadirkan keberkahan untuk umat.
ARTIKEL20/11/2025 | Samsul
Niat Puasa Qadha Ramadhan Panduan Lengkap Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis
Puasa Ramadhan adalah ibadah wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seseorang dibolehkan tidak berpuasa—seperti sakit, bepergian, haid, nifas, atau sebab syar’i lainnya. Kewajiban ini kemudian harus diganti (qadha) di hari lain.
Agar qadha puasa sah, seseorang harus mengetahui niat, waktu niat, serta dasar hukumnya dalam syariat.
1. Dalil Al-Qur’an
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 184:
“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.”
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa orang yang memiliki uzur boleh meninggalkan puasa Ramadhan, namun wajib menggantinya pada hari lain.
2. Dalil Hadis Nabi
Dari Aisyah RA:
“Aku pernah memiliki hutang puasa Ramadhan, maka aku tidak mengqadhanya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa qadha puasa adalah kewajiban yang harus dipenuhi ketika telah selesai dari uzur.
Lafal Niat Qadha (Latin – Arti)
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha'i Ramadhona lillahi ta'ala?.
Artinya: “Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengganti puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Kapan Waktu Niat Puasa Qadha?
Dalam mazhab Syafi’i — yang menjadi pedoman mayoritas muslim Indonesia — niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari sebelum fajar. Hal ini didasarkan pada hadis:
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa tidak berniat puasa pada malam hari, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasai)
Karena qadha adalah puasa wajib, maka niat harus dilakukan sebelum Subuh.
Hikmah dan Keutamaan Menyegerakan Qadha Puasa
Menunaikan amanah ibadah yang masih menjadi tanggungan.
Menunjukkan kesungguhan taat kepada Allah SWT.
Menghindari dosa karena menunda tanpa alasan yang dibenarkan.
Membiasakan disiplin dalam ibadah.
Puasa qadha merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang meninggalkan puasa Ramadhan karena uzur. Dengan memahami dalil Al-Qur’an, hadis, serta lafal niat yang benar, kita dapat menjalankan ibadah ini dengan sempurna sesuai tuntunan syariat.
Semoga Allah memudahkan kita untuk menunaikan semua kewajiban ibadah dan menerima amal-amal kita. Aamiin.
ARTIKEL17/11/2025 | Samsul
Sedekah Abu Bakar Menggetarkan Langit Apa Sedekah Terbaikmu Hari Ini?
Jumat adalah hari penuh keberkahan, pintu-pintu kebaikan dibuka lebih luas, dan pahala dilipatgandakan. Di antara amalan yang sangat dianjurkan pada hari ini adalah sedekah, sebuah ibadah yang sejak zaman Rasulullah ? menjadi tradisi mulia para sahabat.
Pada masa Rasulullah ?, kaum muslimin sangat menjunjung tinggi semangat berbagi. Mereka tidak menunggu kaya untuk memberi; cukup dengan niat tulus dan apa pun yang mereka miliki.
Salah satu kisah yang terkenal adalah kisah Utsman bin Affan r.a. saat kaum muslimin mengalami masa kekeringan. Ketika sumber air hampir habis, Utsman membeli sumur milik seorang Yahudi dan menghibahkan seluruh airnya untuk kaum muslimin. Tindakannya itu menjadi penyelamat banyak keluarga di Madinah.
Di kesempatan lain, para sahabat berlomba-lomba bersedekah setelah Rasulullah ? mengajak mereka membantu kaum fakir. Umar bin Khattab r.a. membawa setengah hartanya, sementara Abu Bakar r.a. membawa seluruh hartanya. Ketika Rasulullah ? bertanya apa yang ia tinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab: “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Semangat inilah yang membuat umat Islam pada masa itu kuat, bersatu, dan dilimpahi keberkahan.
Allah ? berfirman:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan pernah berkurang — justru bertambah berlipat-lipat ganda.
Allah juga memerintahkan:
"Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya." (QS. Saba’: 39)
Bukan manusia yang menjamin balasannya, tetapi Allah langsung yang memberikan jaminan rezeki.
Rasulullah ? bersabda:
“Sedekah itu dapat menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
Dan khusus di hari Jumat, para ulama menjelaskan bahwa sedekah menjadi lebih utama karena ia berbarengan dengan hari paling mulia dalam sepekan – hari ketika doa-doa mustajab, pahala dilipatgandakan, dan rahmat Allah turun.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan dalam Zadul Ma’ad: “Sedekah pada hari Jumat dibandingkan dengan sedekah pada hari-hari lain adalah seperti sedekah di bulan Ramadan.”
Artinya, Jumat adalah momentum emas untuk membuka pintu-pintu keberkahan melalui sedekah.
Di zaman Rasulullah ?, sedekah menjadi penguat peradaban umat: membebaskan budak, membantu fakir miskin, memerdekakan dari kelaparan, dan memperkuat ukhuwah.
Kini, semangat itu dapat kita hidupkan kembali dengan bersedekah secara terstruktur, amanah, dan tepat sasaran. Salah satunya melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Tulang Bawang Barat, yang mengelola zakat, infak, dan sedekah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan—mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi hingga bantuan kemanusiaan.
Jadikan hari Jumat sebagai hari berbagi terbaikmu. Bukalah pintu rezeki, hapuskan dosa, dan raih keberkahan seperti teladan Rasulullah ? dan para sahabat.
Ayo tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Tulang Bawang Barat Bersama kita kuat, bersama kita salurkan manfaat untuk ummat.
ARTIKEL14/11/2025 | Samsul
Sedekah dan Kasih Rasulullah kepada Si Buta Yahudi
Di pinggir pasar Madinah, duduk seorang lelaki tua buta dari kalangan Yahudi. Setiap hari ia mencaci Rasulullah ? kepada siapa pun yang lewat, tanpa tahu siapa sebenarnya beliau. Namun Rasulullah ? yang penuh kasih dan sabar tidak membalas kebencian itu dengan kemarahan.
Setiap pagi, beliau datang membawa makanan dan menyuapi lelaki buta itu dengan lembut, tanpa memperkenalkan diri. Beliau menghaluskan makanannya agar mudah ditelan, menyuapinya penuh kasih, hingga si buta merasa tenang dan kenyang.
Begitulah setiap hari. Sampai akhirnya Rasulullah ? wafat.
Beberapa hari kemudian, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. meneruskan kebiasaan mulia itu. Ketika beliau mencoba menyuapi si buta, orang itu langsung berkata:
“Siapakah engkau? Engkau bukan orang yang biasa memberiku makan! Orang yang biasa menyuapiku selalu melembutkan makanannya, dan dari tangannya terasa kasih sayang dan kelembutan.”
Mendengar itu, Abu Bakar menangis dan berkata:
“Wahai orang tua, yang biasa menyuapimu itu adalah Muhammad Rasulullah ?.”
Si buta terdiam, lalu menangis tersedu.
“Selama ini aku mencacinya... padahal ia menyuapiku dengan kasih. Betapa mulia akhlaknya.”
Sejak hari itu, si buta memeluk Islam, tersentuh oleh cinta dan sedekah Nabi yang tulus.
Surah Al-Baqarah [2]: 267
"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik..."
Ayat ini menegaskan kewajiban memberi dari harta terbaik — sebagaimana Rasulullah ? memberi bukan karena sisa, tapi karena cinta.
Surah Al-Insan [76]: 8–9
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan, (seraya berkata): Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dan terima kasih darimu.”
Ayat ini menggambarkan ketulusan dalam sedekah, persis seperti akhlak Rasulullah ? yang memberi tanpa pamrih, bahkan kepada yang memusuhinya.
Surah An-Nahl [16]: 90
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.”
Rasulullah ? menerapkan ayat ini secara nyata — membalas kebencian dengan kebajikan.
HR. Muslim (2588):
“Sedekah tidak akan mengurangi harta, dan Allah tidak menambah bagi seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.”
Rasulullah ? menunjukkan bahwa sedekah justru menambah keberkahan dan kemuliaan.
HR. Tirmidzi (1970):
“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
Rasulullah ? menjadi teladan utama dalam memberi manfaat, tanpa memandang suku, agama, atau kebencian.
HR. Bukhari dan Muslim:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Kisah ini adalah cerminan sempurna dari misi beliau — menyempurnakan akhlak lewat kasih dan sedekah.
Sedekah bukan hanya tentang harta, tapi tentang hati yang lembut dan niat yang tulus.
Memberi kepada orang yang tidak seagama pun adalah bagian dari akhlak Islam yang luhur.
Kelembutan mampu menaklukkan hati yang keras, lebih kuat dari kata-kata atau kekuasaan.
Mari meneladani Rasulullah ? — menebar kasih, membantu sesama, dan menghidupkan semangat zakat, infak, dan sedekah. Salurkan melalui BAZNAS Tulang Bawang Barat, agar kebaikanmu menjadi cahaya bagi sesama.
“Apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya.” — QS. Saba’ [34]: 39
ARTIKEL13/11/2025 | Samsul
Sedekah yang Menggetarkan Langit Belajar dari Keikhlasan Sahabat Nabi
Pada suatu masa yang panas dan penuh ujian, Rasulullah ? memanggil umatnya untuk bersiap menghadapi Perang Tabuk. Perjalanan yang jauh, bekal yang sangat minim, dan kondisi yang begitu berat membuat seluruh kaum muslimin diuji keimanannya.
Di tengah kecemasan dan kekurangan itu, Rasulullah ? mengajak para sahabat berinfak untuk perjuangan Islam.
Para sahabat besar berdatangan membawa harta mereka. Utsman bin Affan r.a. datang dengan kafilah penuh perbekalan, hingga Rasulullah ? memuji sedekahnya,
“Tidak ada lagi yang membahayakan Utsman setelah hari ini.”
Namun di sisi lain, berdiri seorang lelaki sederhana bernama Abu Aqil r.a. Ia hanya seorang buruh kasar. Malam itu ia bekerja keras, memeras keringat demi sekadar mendapat dua genggam kurma. Hasil yang sangat sedikit… tapi itu seluruh yang ia miliki.
Ia menatap kurma itu lama. Kalau ia sedekahkan semuanya, keluarganya akan lapar. Namun jika ia tidak bersedekah, hatinya terasa sempit.
Akhirnya ia bawa satu genggam kurma kepada Rasulullah ?.
Dengan suara rendah ia berkata,
“Wahai Rasulullah, ini adalah sedekahku. Satu genggam untuk keluargaku, dan satu genggam ini untuk Allah dan Rasul-Nya.”
Beberapa orang menertawakannya:
“Hanya itu? Sedekah kecil seperti ini tak akan berarti!”
Mereka meremehkan apa yang bagi Abu Aqil adalah pengorbanan besar.
Namun Rasulullah ? memandang sedekah kecil itu dengan penuh bangga. Beliau bersabda tegas:
“Sedekah Abu Aqil lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada gunung emas.” (HR. Thabrani)
Mengapa? Karena yang sedikit dengan keikhlasan sempurna lebih mulia daripada yang banyak tanpa hati.
Sedekah Abu Aqil bukan hanya membantu perjuangan saat itu… Tetapi menggetarkan langit, menjadi cahaya bagi dirinya di dunia dan akhirat.
Berapapun harta kita, selalu ada ruang untuk berbagi. Karena sedekah bukan tentang mampu atau tidak… Tetapi tentang kepercayaan bahwa Allah tidak akan pernah mengecewakan hamba yang memberi karena-Nya.
Setiap rupiah yang kita keluarkan: Menyambung rezeki keluarga duafa Menjadi napas kehidupan bagi yang sakit Menjadi ilmu bagi anak-anak yatim Menjadi pondasi kuatnya umat Islam
Hari ini, kesempatan itu ada di depan kita. Masih banyak saudara kita di Tulang Bawang Barat yang menunggu uluran tangan. Kita bisa menjadi pahlawan dalam diam, seperti Abu Aqil r.a.
Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah terbaik Anda melalui:
BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat Amanah • Tepat Sasaran • Menguatkan Sesama
Karena… Kebaikanmu hari ini mungkin menjadi penyelamat bagi seseorang besok. Dan siapa tahu? Kelak, sedekahmu akan menjadi cahaya yang paling menggetarkan langit.
ARTIKEL11/11/2025 | Samsul
Hikmah Jumat Di Dalam Zakat Ada Pertolongan Allah
Zakat bukan sekadar kewajiban, tapi jalan menuju keberkahan dan pertolongan Allah bagi siapa pun yang menunaikannya. Dalam setiap rupiah yang dikeluarkan di jalan Allah, tersimpan doa mustajab: “Allah pasti menolong hamba-Nya yang menolong sesama.”
Ketika zakat dikelola dengan amanah dan tepat sasaran, ia menjelma menjadi kekuatan sosial yang luar biasa. Zakat menumbuhkan kemandirian, membuka peluang ekonomi mustahik, menghapus kesenjangan, serta menjaga kehormatan mereka yang membutuhkan.
Melalui kegiatan Sosialisasi Indeks Zakat Nasional (IZN) 2025 dan Audit Internal Baznas se-Provinsi Lampung, Gubernur Lampung Mirza Djausal menegaskan pentingnya membangun kepercayaan umat kepada lembaga zakat yang transparan, profesional, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
“Semakin baik pengelolaan zakat, semakin besar manfaat yang dirasakan umat, dan semakin tinggi pula kepercayaan masyarakat kepada BAZNAS,” tegasnya.
Inisiatif Gerakan Sadar Zakat yang digagas Gubernur Mirza pun membuahkan hasil gemilang — pengumpulan zakat di Lampung meningkat hingga 500 persen. Ini bukti nyata bahwa semangat berbagi dapat tumbuh pesat saat kepercayaan masyarakat dibangun dengan baik.
Zakat yang dikelola dengan amanah bukan hanya menguatkan lembaga, tetapi juga menghadirkan keberkahan dan pertolongan Allah bagi seluruh masyarakat. Umat yang kuat adalah mereka yang saling menolong, saling menguatkan, dan saling memastikan bahwa tidak ada satu pun saudara yang tertinggal dalam keterbatasan.
Mari turut serta dalam gerakan kebaikan ini. Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah Anda ke:
BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat Menjadi perantara amanah, menyampaikan keberkahan hingga tepat sasaran
Klik sekarang untuk tunaikan kewajiban dan wujudkan kepedulian: www.kabtubaba.baznas.go.id
Karena di dalam zakat, ada pertolongan Allah yang pasti datang tepat pada waktunya.
ARTIKEL07/11/2025 | Samsul
Harta Tak Berkurang karena Zakat, Hidup Justru Penuh Keajaiban
Hari Jumat adalah hari mulia, hari di mana pintu keberkahan dan ampunan terbuka lebar. Di antara bentuk ibadah yang Allah cintai adalah Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS). Tiga amalan ini bukan hanya membersihkan harta, tetapi menjadi jalan turunnya pertolongan Allah bagi umat yang saling menolong.
Allah berjanji dalam Al-Qur’an:
“Dan apa saja yang kamu nafkahkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39)
Dalam setiap kebaikan yang kita keluarkan, Allah menjadikan manfaatnya berlipat:
Menguatkan umat yang lemah
Menjaga kehormatan sesama
Menyuburkan harta si pemberi
Bupati Kabupaten Tulang Bawang Barat menyampaikan motivasi penting kepada seluruh masyarakat:
“Kita ingin membangun Tubaba bukan hanya dari bangunan yang berdiri kokoh, tetapi dari kuatnya kepedulian dan gotong royong umat. Mari kuatkan peran BAZNAS Tubaba sebagai lembaga amanah untuk menyalurkan ZIS kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.”
Ajakan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi juga keterlibatan umat dalam berbagi keberkahan.
Zakat yang Amanah, Manfaat yang Nyata
Dengan dukungan pemerintah daerah dan masyarakat, setiap ZIS yang dikelola BAZNAS Tubaba telah menjadi:
Bantuan bagi keluarga kurang mampu
Akses kesehatan bagi yang sakit dan membutuhkan
Dukungan pendidikan anak-anak mustahik
Penguatan ekonomi agar mustahik naik kelas
Semua itu adalah buah dari kepedulian kita bersama.
Jadikan Jumat Ini Lebih Bermakna
Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah melalui lembaga resmi daerah: BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat Amanah • Profesional • Tepat Sasaran
Klik untuk berbagi kebaikan: www.kabtubaba.baznas.go.id
Ajak keluarga dan sahabat: “Sebelum kita memohon pertolongan Allah, mari kita jadi pertolongan bagi sesama.”
Semoga Allah menerima setiap amal kebaikan kita dan memberi keberkahan bagi Kabupaten Tulang Bawang Barat. Aamiin.
#HikmahJumat #BaznasTubaba #ZISUntukKebaikan #TubabaBerbagi #JumatBerkah #SemestaKebaikan
ARTIKEL07/11/2025 | Samsul
5 Kunci Hidup Ikhlas Seni Menemukan Ketenangan Batin dalam Islam
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern—deadline, tuntutan sosial, dan persaingan tak terlihat—banyak orang merindukan satu hal yang paling sederhana: ketenangan hati. Namun, ketenangan tidak datang dari kepemilikan materi atau pujian manusia. Ia tumbuh dari satu amalan hati yang agung: ikhlas.
Ikhlas adalah jalan menuju kebebasan batin. Tapi pertanyaannya: bagaimana cara hidup ikhlas dalam keseharian yang penuh tekanan ini? Banyak yang tahu pentingnya ikhlas, tapi tak semua tahu bagaimana mempraktikkannya secara nyata.
Berikut adalah lima kunci hidup ikhlas berdasarkan nilai-nilai Islam yang bisa mulai kita latih sejak sekarang…
1 Menyadari Bahwa Segala Sesuatu Datang dari Allah
Ketika kita meyakini sepenuhnya bahwa segala kejadian sudah Allah tetapkan, hati akan lebih siap menerima kenyataan, baik manis maupun pahit.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid: 22–23:
Tidak ada musibah yang menimpa... melainkan sudah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh).
Kesadaran ini mengajarkan:
Tidak iri pada keberhasilan orang lain
Tidak berlebihan dalam kecewa saat gagal
Tidak gelisah pada sesuatu yang di luar kendali
Ucapan sederhana seperti:
“Allah tahu yang terbaik untukku” bisa menjadi tameng hati dari guncangan kehidupan.
2 Meluruskan Niat, Hanya Karena Allah
Ikhlas tidak pernah lahir tanpa niat yang benar.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Cara sederhana melatihnya:
Bekerja → diniatkan mencari rezeki halal
Menolong → untuk mendapat ridha Allah, bukan pujian
Belajar → untuk memuliakan ilmu
Pujian manusia membahagiakan, tetapi tidak menjadi tujuan. Karena amal yang besar sekalipun bisa tak bernilai jika di dalamnya ada riya.
3 Bersyukur dan Menerima Ketentuan Allah
Bersyukur adalah pupuk bagi hati. Tanpa syukur, hidup terasa sempit.
QS. Ibrahim: 7 mengingatkan:
Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.
Bentuk syukur dalam hidup:
Menghargai nikmat kecil yang sering terlupa
Menemukan hikmah dalam setiap cobaan
Tidak membandingkan diri dengan orang lain
Semakin sering kita berkata “Alhamdulillah”, semakin luas Allah lapangkan hati.
4 Tidak Mengharapkan Balasan dari Manusia
Kebaikan sering dibalas kecewa. Tapi orang yang ikhlas tahu:
Apapun yang dilakukan karena Allah, pasti Allah balas dengan lebih indah
QS. Al-Insan: 9 menjelaskan prinsip ini dengan sangat tegas:
Kami memberi makanan… hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah saja.
Jika kita berhenti berharap dari manusia:
Tidak cepat marah ketika tidak dihargai
Tidak putus semangat dalam berbuat baik
Tidak terluka oleh sikap orang lain
Inilah bentuk kebebasan hati yang luar biasa.
5 Menjadikan Ujian Hidup sebagai Sarana Peningkatan Diri
Ujian bukan untuk melemahkan, tapi untuk menaikkan derajat.
Allah menjanjikan kabar gembira bagi yang sabar (QS. Al-Baqarah: 155–157).
Dalam ujian:
Allah ingin kita lebih dekat kepada-Nya
Allah ingin menghapus dosa-dosa kita
Allah ingin memperkuat hati dan iman kita
Ikhlas bukan berarti tidak merasa sakit, tapi tetap percaya pada rencana Allah meski hati sedang terluka.
Ikhlas: Perjalanan Seumur Hidup
Ikhlas adalah seni tertinggi menjalani hidup. Tak mudah, tapi bisa dilatih setiap hari melalui:
? Meyakini takdir Allah ? Menjaga niat ? Banyak bersyukur ? Berbuat tanpa berharap balasan ? Menjadikan ujian sebagai pendewasaan diri
Siapa yang mampu menapaki jalan ini, ia akan merasakan: hati yang tenang pikiran yang jernih hidup yang penuh keberkahan
Mari kita mulai hari ini, dari hal kecil… dan semoga Allah menuntun setiap langkah kita menuju ketulusan yang hakiki.
“Ya Allah, jadikanlah setiap amal kami hanya untuk-Mu dan karenamu.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin
ARTIKEL31/10/2025 | Samsul
Zakat, Infak, dan Sedekah Kekuatan Spiritual yang Menumbuhkan Keberkahan Sosial
Dalam kehidupan seorang Muslim, harta bukan sekadar alat pemuas kebutuhan duniawi, tetapi juga amanah dari Allah SWT yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Salah satu bentuk tanggung jawab itu adalah melalui penunaian Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) — instrumen yang tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membersihkan jiwa dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan.
Zakat Pilar Keadilan Ekonomi Umat
Zakat adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat nisab dan haul. Melalui zakat, terjadi redistribusi kekayaan yang adil, dari yang mampu kepada yang membutuhkan. Inilah instrumen ekonomi Islam yang menegakkan keseimbangan sosial. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Dengan zakat, seorang mukmin bukan kehilangan, melainkan justru menyuburkan keberkahan harta. Harta yang dizakati ibarat pohon yang dipangkas rantingnya agar tumbuh lebih kuat dan berbuah lebih banyak.
Infak Ladang Pahala yang Tak Pernah Kering
Berbeda dengan zakat yang bersifat wajib dan memiliki ketentuan tertentu, infak bersifat lebih luas dan fleksibel. Siapa pun, kapan pun, dan dalam jumlah berapa pun bisa berinfak. Infak bisa berupa uang, tenaga, ilmu, bahkan waktu untuk membantu sesama. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah berkurang harta karena sedekah.” (HR. Muslim)
Infak adalah wujud cinta kasih kepada sesama dan bukti keimanan kepada Allah SWT. Setiap rupiah yang diinfakkan menjadi energi sosial yang menggerakkan kebaikan di tengah masyarakat.
Sedekah Menyentuh Hati, Menyuburkan Jiwa
Sedekah adalah bentuk kepedulian yang paling lembut namun berdampak besar. Ia bisa berupa materi, senyum, atau sekadar menyingkirkan duri dari jalan. Sedekah tidak hanya menolong yang kekurangan, tetapi juga menenangkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam hadis lain disebutkan:
“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)
Setiap sedekah, sekecil apa pun, adalah bukti nyata bahwa kasih sayang masih hidup di hati umat.
Menunaikan ZIS Melalui BAZNAS Tulang Bawang Barat
Sebagai lembaga resmi yang diberi amanah oleh negara dan umat, BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat hadir untuk memastikan setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah dikelola dengan amanah, transparan, dan tepat sasaran. Dana yang terhimpun disalurkan melalui berbagai program: pemberdayaan ekonomi mustahik, bantuan pendidikan, kesehatan, sosial kemanusiaan, dan penguatan keagamaan di tingkat desa hingga kabupaten.
Mari bersama wujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umat melalui semangat berbagi. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah Anda melalui:
Kantor Digital BAZNAS Tubaba: https://kabtubaba.baznas.go.id/sedekah Atau langsung ke Kantor BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat
“Karena setiap rupiah yang Anda titipkan adalah cahaya yang menerangi kehidupan orang lain.”
ARTIKEL24/10/2025 | Samsul
Menghidupkan Keberkahan Melalui Zakat, Infak, dan Sedekah
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, sering kali manusia terjebak dalam kesibukan mencari rezeki tanpa sempat merenungkan makna keberkahan di dalamnya. Padahal, Islam telah mengajarkan sebuah jalan mulia agar harta yang kita miliki tidak hanya bernilai duniawi, tetapi juga bernilai ukhrawi — melalui Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS).
1. Zakat : Membersihkan Harta, Menyucikan Jiwa
Zakat merupakan rukun Islam yang ketiga dan memiliki kedudukan sangat tinggi. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 103:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka...”
Zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi juga ibadah sosial yang menumbuhkan rasa empati dan tanggung jawab terhadap sesama. Dengan menunaikan zakat, seorang Muslim membantu menghapus kesenjangan sosial dan mengokohkan solidaritas umat.
2. Infak : Menebar Manfaat di Setiap Kesempatan
Berbeda dengan zakat yang memiliki ketentuan nisab dan haul, infak dapat dilakukan kapan saja dan dalam jumlah berapa pun. Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap hari ketika matahari terbit, setiap sendi-sendi manusia wajib bersedekah...” (HR. Bukhari dan Muslim)
Infak membuka jalan bagi setiap Muslim untuk berbuat baik tanpa menunggu kaya. Sebab, setiap rupiah yang dikeluarkan di jalan Allah akan kembali dengan keberkahan yang berlipat ganda.
3. Sedekah : Kebaikan yang Tak Pernah Mati
Sedekah adalah amal yang paling mudah dilakukan, namun memiliki dampak luar biasa. Ia tidak terbatas pada harta, tetapi juga mencakup senyum, tenaga, ilmu, dan perhatian. Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Artinya, sedekah justru menjadi magnet rezeki dan pelindung dari kesempitan hidup. Harta yang disedekahkan tidak hilang, melainkan disimpan dalam tabungan akhirat yang kekal.
Mengalirkan Kebaikan Melalui BAZNAS Tulang Bawang Barat
Kini, berzakat, berinfak, dan bersedekah semakin mudah melalui Kantor Digital BAZNAS Tulang Bawang Barat di www.baznastubaba.my.id. Setiap donasi Anda akan disalurkan secara transparan, akuntabel, dan tepat sasaran kepada mustahik yang membutuhkan — mulai dari fakir miskin, disabilitas, yatim piatu, hingga program pemberdayaan ekonomi umat.
Mari kita hidupkan kembali semangat kepedulian sosial. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) Anda melalui BAZNAS Tulang Bawang Barat. Karena dengan memberi, kita justru akan menerima lebih banyak keberkahan.
ARTIKEL20/10/2025 | Samsul
Keutamaan Hari Jumat dalam Perspektif Al-Qur’an, Hadis, dan Ushul Fiqh
Hari Jumat adalah hari agung dalam Islam — hari yang Allah muliakan bagi umat Nabi Muhammad ?. Banyak keutamaan, pahala, dan rahmat yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan pendekatan Ushul Fiqh, Jumat bukan sekadar hari ibadah mingguan, tetapi juga momentum sosial dan spiritual untuk memperkuat iman serta memperluas manfaat bagi sesama.
1. Landasan Al-Qur’an: Hari Jumat Sebagai Hari Pengingat dan Ibadah Kolektif
Allah berfirman dalam QS. Al-Jumu‘ah: 9–10:
??? ???????? ????????? ??????? ????? ??????? ??????????? ??? ?????? ??????????? ?????????? ?????? ?????? ??????? ???????? ????????? ? ????????? ?????? ??????? ??? ??????? ???????????. ??????? ???????? ?????????? ???????????? ??? ????????? ??????????? ??? ?????? ??????? ??????????? ??????? ???????? ???????????? ???????????.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli. Itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Maka apabila salat telah ditunaikan, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah serta ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu‘ah [62]: 9–10)
Penjelasan Tafsir: Menurut Tafsir Ibn Katsir (Juz 8, hal. 109), ayat ini menunjukkan dua makna besar Jumat:
Aspek ibadah: wajib menghadiri shalat Jumat, meninggalkan aktivitas duniawi sementara waktu.
Aspek sosial-ekonomi: setelah ibadah, dianjurkan beraktivitas mencari rezeki dan menebar manfaat.
Artinya, Jumat bukan hari pasif, tapi hari sinergi antara ibadah dan produktivitas, yang kemudian dapat diwujudkan dalam bentuk amal sosial — termasuk zakat, infak, dan sedekah.
2. Dalil Hadis: Hari Terbaik Sepanjang Pekan
Rasulullah ? bersabda:
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat; pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim, No. 854; juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis lain menyebut:
“Di dalamnya (hari Jumat) terdapat satu waktu, yang apabila seorang hamba Muslim berdoa kepada Allah bertepatan dengannya, maka Allah pasti akan memberinya apa yang dia minta.” (HR. Bukhari No. 935, Muslim No. 852)
Dan dalam riwayat lain:
“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Jumat, karena shalawat kalian disampaikan kepadaku.” (HR. Abu Dawud No. 1047, Ahmad Juz 2 Hal. 367)
Kesimpulan dari hadis-hadis ini: Hari Jumat memiliki kedudukan spiritual tertinggi dibanding hari lain karena:
Hari penciptaan manusia pertama (Adam a.s).
Terdapat sa‘at mustajab (waktu mustajab doa).
Didorong untuk memperbanyak amal saleh, dzikir, dan sedekah.
3. Perspektif Ushul Fiqh: Mengapa Jumat Dimuliakan Secara Syari‘at
Dalam Ushul Fiqh, keutamaan Jumat dapat dijelaskan melalui tiga konsep penting:
a. Dalâlah Nash (Petunjuk Tekstual)
Dalam ilmu Ushul Fiqh, dalâlah menunjukkan hubungan makna teks dengan hukum. Ayat QS. Al-Jumu‘ah: 9–10 menunjukkan dalâlah ‘ibârah (makna eksplisit), yaitu perintah shalat Jumat dan larangan berjual beli saat adzan. Namun, melalui dalâlah isyârah (makna tersirat), ayat itu juga memberi petunjuk agar umat Islam menjadikan Jumat sebagai momentum spiritual dan sosial — menyatukan ibadah, kerja, dan sedekah.
b. Kaedah Fiqhiyyah: “Al-‘Ibrah bi ‘Umûm al-Lafzh lâ bi Khushûsh as-Sabab”
Artinya: “Yang menjadi pegangan adalah keumuman lafaz, bukan kekhususan sebab.” Kaidah ini menunjukkan bahwa keutamaan amal pada hari Jumat tidak hanya terbatas pada shalat, tetapi berlaku untuk seluruh bentuk ibadah — termasuk zakat, infak, dan sedekah.
Contohnya, jika shalat Jumat diwajibkan karena keutamaannya, maka amal sosial di hari Jumat pun mendapat keutamaan yang serupa, karena masih dalam kerangka “dzikrullah” (mengingat Allah).
c. Maqâshid asy-Syari‘ah (Tujuan Hukum Islam)
Dalam Ushul Fiqh al-Islami karya Dr. Wahbah az-Zuhaili (Jilid 2, hal. 112), salah satu tujuan utama syariat Islam adalah:
“Tahqîq al-maslahah wa daf‘ al-mafsadah” — Mewujudkan kemaslahatan dan menolak kerusakan.
Dengan demikian, memperbanyak sedekah di hari Jumat berarti menjalankan maqâshid syari‘ah:
Menjaga harta (hifzh al-mâl) dengan mensucikannya.
Menjaga jiwa (hifzh an-nafs) dengan membantu sesama.
Menegakkan keadilan sosial yang menjadi nilai inti zakat dan infak.
4. Hikmah Spiritual dan Sosial Hari Jumat
Dari sisi spiritual, Jumat adalah hari:
Diampuninya dosa bagi yang beribadah dengan ikhlas (HR. Muslim No. 857).
Hari penuh doa mustajab.
Hari diperbanyak shalawat dan amal kebaikan.
Dari sisi sosial, Jumat adalah:
Waktu berkumpul umat dalam jamaah terbesar mingguan.
Momentum mempererat ukhuwah, membangun solidaritas, dan menebar sedekah.
Oleh karena itu, hari Jumat adalah hari amal sosial terbesar dalam Islam. Sedekah pada hari ini lebih utama karena pahalanya berlipat sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma’ad, Juz 1 hal. 375:
“Sedekah pada hari Jumat dibandingkan dengan hari lain seperti sedekah pada bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.”
5. Penutup: Jumat, Hari Zakat dan Kebaikan Bersama
Hari Jumat adalah anugerah mingguan. Ia menyatukan ibadah dan kepedulian, dzikir dan tindakan sosial. Setiap muslim hendaknya menjadikan hari Jumat sebagai momentum mensucikan diri dan harta, sebagaimana sabda Nabi ?:
“Sebaik-baik sedekah adalah yang diberikan pada hari Jumat.” (HR. Abu Dawud No. 1047; dalam sebagian riwayat disebut Hasan)
Maka dari itu, marilah kita isi hari Jumat dengan amal terbaik — menunaikan zakat, infak, dan sedekah sebagai wujud syukur dan keimanan.
Ajakan untuk Kebaikan
Dari Jumat penuh barakah, lahir keberkahan tanpa batas.
Mari tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) Anda melalui: BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat Lembaga resmi yang amanah dalam menyalurkan harta umat untuk memberdayakan yang lemah, membantu yang membutuhkan, dan menebar maslahat di seluruh penjuru negeri.
Salurkan ZIS Anda hari ini. Karena setiap Jumat adalah kesempatan untuk menanam pahala dan menumbuhkan keberkahan.
Referensi:
Al-Qur’an Surah Al-Jumu‘ah [62]: 9–10
Sahih Muslim, Kitab al-Jumu‘ah, No. 854, 857
Sahih Bukhari, Kitab al-Jumu‘ah, No. 935
Tafsir Ibn Katsir, Juz 8, hal. 109
Zad al-Ma‘ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Juz 1, hal. 375
Ushul al-Fiqh al-Islami, Dr. Wahbah az-Zuhaili, Jilid 2, hal. 112–115
Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari‘ah, Imam al-Syatibi, Jilid 2, hal. 8
ARTIKEL10/10/2025 | Samsul
Keutamaan Hari Selasa dalam Pandangan Islam
Dalam Islam, setiap hari memiliki keutamaannya masing-masing. Tidak ada hari yang diciptakan Allah tanpa hikmah dan keistimewaan. Salah satunya adalah hari Selasa, hari ketiga dalam hitungan pekan yang juga memiliki makna spiritual mendalam jika dikaji melalui Al-Qur’an, Hadis, dan pendekatan Ushul Fiqh.
1. Hari Selasa dan Sunnatullah dalam Penciptaan
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
"Dan Dia (Allah) yang menciptakan bumi dalam dua masa, dan Dia menjadikan padanya gunung-gunung dan memberkahinya..." (QS. Fushshilat: 9–10)
Menurut para ahli tafsir, proses penciptaan bumi berlangsung selama enam masa, dan sebagian ulama berpendapat bahwa hari Selasa termasuk dalam masa Allah menegakkan kekuatan dan ketegasan di bumi. Maka, hari Selasa mengandung makna ‘azm (keteguhan) dan quwwah (kekuatan).
Hari ini menjadi simbol semangat berjuang, berikhtiar, dan melawan kelemahan diri, karena di dalamnya terkandung makna kekuatan yang diberikan Allah kepada manusia untuk melaksanakan amanah kehidupan.
2. Isyarat Hadis tentang Hari Selasa
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ? disebutkan sering memilih waktu tertentu untuk berobat atau memulai aktivitas dengan pertimbangan hikmah dari hari-hari tertentu. Diriwayatkan dalam kitab Zad al-Ma’ad karya Ibnul Qayyim bahwa:
"Rasulullah pernah berbekam pada hari Selasa dan beliau bersabda bahwa hari itu adalah hari keluarnya darah." (Ibnul Qayyim, Zad al-Ma’ad, Juz 4)
Hadis ini menunjukkan bahwa hari Selasa adalah waktu yang baik untuk penyembuhan, pemulihan, dan membersihkan diri, baik secara fisik maupun spiritual. Maka, hari ini juga menjadi momentum untuk membersihkan harta dan hati melalui zakat, infak, dan sedekah.
3. Pendekatan Ushul Fiqh Hikmah di Balik Setiap Hari
Dalam kajian Ushul Fiqh, terdapat kaidah penting:
"Al-hukmu yadûru ma‘a ‘illatihi wujûdan wa ‘adaman" (Hukum berlaku sesuai dengan sebabnya, ada atau tidaknya).
Artinya, kebaikan suatu amal tidak tergantung pada hari tertentu, tetapi pada niat dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Namun, memilih hari-hari baik seperti Selasa untuk memperbanyak amal saleh termasuk dalam bentuk tathawwu’ (sunnah yang dianjurkan), karena di dalamnya ada semangat tazkiyah — penyucian diri dan harta.
Dengan semangat itu, menjadikan Selasa sebagai hari untuk memperbanyak amal sosial, kebaikan, dan kepedulian terhadap sesama adalah bentuk implementasi nyata dari nilai-nilai maqashid al-syari‘ah — menjaga jiwa (hifzh al-nafs) dan harta (hifzh al-mal).
4. Jadikan Hari Selasa Sebagai Hari Amal dan Kebaikan
Hari Selasa bukan sekadar bagian dari rutinitas pekan, tetapi momentum untuk meneguhkan semangat amal jariyah dan kepedulian sosial. Rasulullah ? bersabda:
“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta, melainkan menambah keberkahan.” (HR. Muslim)
Dengan bersedekah di hari Selasa, kita tidak hanya menghidupkan semangat quwwah dan keteguhan, tapi juga menegakkan prinsip keadilan sosial sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur’an.
Ayo, Jadikan Hari Selasa Sebagai Hari Berkah!
Mari isi hari Selasa dengan semangat berbagi. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) melalui: BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat — lembaga resmi yang amanah dalam menyalurkan kebaikan Anda kepada yang berhak.
“Dari Selasa penuh semangat, lahir keberkahan tanpa batas.” Klik dan salurkan ZIS Anda sekarang untuk keberkahan dunia dan akhirat.
ARTIKEL07/10/2025 | Samsul
BAZNAS Adalah Cahaya Keadilan dan Kesejahteraan Umat
Makna dan Kedudukan BAZNAS dalam Islam dan Negara
BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) adalah lembaga resmi yang dibentuk oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk mengelola zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara nasional, transparan, dan sesuai syariat Islam.
Kelahiran BAZNAS merupakan wujud nyata sinergi antara agama dan negara dalam membangun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dasarnya tertuang dalam:
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat,
Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014,
serta diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2001.
Melalui dasar hukum ini, BAZNAS ditetapkan sebagai lembaga pemerintah non-struktural yang memiliki kewenangan mengelola dana zakat secara nasional — dari pusat hingga kabupaten/kota — dengan tanggung jawab moral dan spiritual yang besar di hadapan Allah dan rakyat.
Landasan Qurani: Zakat Sebagai Amanah Ilahi
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 103:
"Khudz min amwâlihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkîhim bihâ..." “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”
Ayat ini menjadi fondasi perintah zakat sebagai instrumen penyucian harta dan jiwa. BAZNAS hadir sebagai pelaksana amanah tersebut — memastikan zakat yang ditunaikan sampai kepada delapan golongan yang berhak (asnaf), sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taubah: 60.
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang fakir, miskin, amil zakat, muallaf, untuk memerdekakan budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan.” (QS. At-Taubah: 60)
Ayat ini menegaskan bahwa pengelolaan zakat bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan ibadah yang memiliki tata aturan syariat, di mana peran amil seperti BAZNAS menjadi bagian dari sistem ibadah yang sah dan mulia.
Hadis Nabi dan Semangat BAZNAS
Rasulullah ? bersabda:
“Tidak akan berkurang harta karena sedekah.” (HR. Muslim no. 2588)
“Sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi no. 614)
Hadis-hadis ini mengajarkan bahwa menunaikan zakat dan sedekah bukanlah kehilangan, melainkan investasi abadi yang mendatangkan keberkahan dunia dan akhirat.
BAZNAS hadir sebagai perpanjangan tangan umat Islam untuk menyalurkan kebaikan itu dengan aman, sah, dan tepat sasaran.
Fungsi dan Amanah BAZNAS
Sebagai lembaga resmi, BAZNAS menjalankan empat fungsi utama:
Pengumpulan (himpunan) dana ZIS dari masyarakat muslim yang telah mencapai nisab.
Pendayagunaan dan pendistribusian kepada penerima yang berhak (fakir, miskin, gharim, fi sabilillah, dan lainnya).
Pengawasan dan pelaporan yang transparan, diaudit secara syariah dan keuangan.
Edukasi dan dakwah zakat, mengajak masyarakat memahami nilai sosial dan spiritual zakat.
Di setiap tingkatannya — termasuk BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat, lembaga ini menjadi pelita yang menyalakan harapan umat melalui program:
Bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana,
Beasiswa pendidikan dan pembinaan santri,
Bantuan usaha mikro dan ekonomi produktif,
Layanan kesehatan mustahik,
serta dakwah dan pembinaan keagamaan.
Perspektif Ushul Fiqh: Mengelola Zakat Secara Jama’i (Kolektif)
Dalam ilmu Ushul Fiqh, terdapat kaidah:
"Mâ lâ yatimmul wâjibu illâ bihî fahuwa wâjib." “Sesuatu yang tidak sempurna kewajiban kecuali dengannya, maka ia menjadi wajib pula.”
Artinya, jika zakat tidak dapat dikelola secara baik tanpa lembaga pengatur seperti BAZNAS, maka pembentukan lembaga amil zakat menjadi kewajiban kolektif (fardhu kifayah) bagi umat dan negara.
Dengan demikian, keberadaan BAZNAS bukan hanya administratif, tetapi bagian dari perintah syariat untuk menegakkan sistem zakat yang tertib, adil, dan bermanfaat.
Mengapa Harus Melalui BAZNAS?
Sah secara syar’i dan legal negara. Ditetapkan melalui UU dan diawasi oleh BAZNAS RI serta Kementerian Agama.
Amanah dan transparan. Setiap rupiah tercatat, disalurkan dengan akuntabilitas tinggi, dan diaudit secara rutin.
Memberdayakan, bukan sekadar memberi. Dana zakat diolah menjadi program ekonomi produktif, beasiswa, dan kesehatan mustahik.
Menghidupkan nilai ukhuwah dan keadilan sosial. Dengan zakat, umat saling menguatkan dan membangun masyarakat madani yang berkeadilan.
Ayo, Jadikan Zakat sebagai Jalan Cahaya!
Mari kita hidupkan semangat Islam yang menebar manfaat. Zakat, infak, dan sedekah yang Anda tunaikan melalui BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat bukan hanya menolong sesama, tetapi juga membersihkan hati, menyuburkan harta, dan menegakkan keadilan sosial.
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah Anda melalui BAZNAS Tulang Bawang Barat. Amanah – Transparan – Berdampak.
Bersama BAZNAS, Zakat Jadi Kuat – Umat Jadi Hebat.
ARTIKEL07/10/2025 | Samsul

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kab. Tulang Bawang Barat.
Lihat Daftar Rekening →