Duka dan Bahaya di Sumatera Saatnya Aksi, Bukan Sekadar Simpati
10/12/2025 | Penulis: Samsul
Duka dan Bahaya di Sumatera
Gemuruh alam kembali menggetarkan tanah Sumatera. Langit yang gelap selama berhari-hari memuntahkan hujan tanpa belas kasihan. Sungai yang dulu menenangkan kini berubah menjadi monster yang mengamuk, merobek jembatan, menghanyutkan rumah, dan membawa serta apa pun yang dilewatinya. Longsor turun dari tebing-tebing tinggi, menelan jalan, menutup desa, dan menimbun harapan.
Di balik kabut tebal dan suara sirene peringatan, bahaya itu terasa begitu dekat—seakan mengingatkan bahwa kehidupan manusia bisa runtuh hanya dalam hitungan menit. Getaran tanah, air bah yang tiba-tiba naik, angin yang memekakkan telinga, semuanya berpadu membentuk kenyataan pahit: manusia terlalu kecil di hadapan kekuatan alam.
Di tengah suara tangis anak-anak, teriakan warga meminta tolong, dan langkah kaki relawan yang tak kenal lelah, kita melihat sisi paling rapuh dari kehidupan. Seorang ayah berlari membawa anaknya menembus derasnya lumpur, seorang ibu memeluk bayi yang kedinginan, sementara lansia terduduk diam, kehilangan tempat berlindung dan tak tahu harus ke mana lagi. Di tempat lain, warga yang selamat berdiri gemetar, tidak hanya karena dingin, tetapi karena ketakutan akan datangnya bencana susulan.
Bahaya itu nyata.
Bahaya itu merenggut.
Bahaya itu menyisakan luka yang tak langsung terlihat—luka dalam hati, luka kehilangan, luka ketidakberdayaan.
Namun di balik gelapnya suasana, ada sesuatu yang lebih kuat dari bencana: kemanusiaan.
Ketika bahaya menyentuh Sumatera, hati kita seharusnya ikut tersentuh.
Kita tidak bisa menahan derasnya hujan. Kita tidak bisa menghentikan tanah longsor. Tapi kita bisa melakukan sesuatu yang lebih besar: menjadi penerang bagi mereka di tengah gelapnya musibah.
Mereka membutuhkan:
- Makanan agar bisa bertahan hari ini.
- Selimut dan pakaian kering agar terhindar dari penyakit.
- Obat-obatan agar luka-luka segera pulih.
- Tempat berlindung agar malam tidak kembali membawa ketakutan.
- Uluran empati agar mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian menghadapi bahaya ini.
Donasi bukan hanya memberi bantuan. Donasi adalah tanda bahwa kita masih memiliki nurani. Bahwa ketika saudara kita berada dalam ancaman, kita tidak tinggal diam.
Bahaya telah menyentuh Sumatera. Sekarang, biarkan kepedulian kita menyentuh mereka.
Mari bergerak, mari menyelamatkan, mari membantu mereka berdiri kembali.
Ayo berdonasi melalui BAZNAS Tubaba—karena satu tindakan kecil Anda bisa menjadi penyelamat besar bagi mereka yang sedang berjuang melawan bencana.
Salurkan ke :
BANK : BSI
NO Rek : 9997989691
An. BAZNAS TUBABA Tanggap BENCANA
Atau melalui kantor digital berikut : www.baznastubaba.my.id/donasi/donasibencana
Artikel Lainnya
Hikmah Jumat Di Dalam Zakat Ada Pertolongan Allah
BAZNAS Adalah Cahaya Keadilan dan Kesejahteraan Umat
Keberkahan Puasa Senin Kamis Amalan Sunnah yang Sarat Doa dan Keutamaan
Sedekah yang Menggetarkan Langit Belajar dari Keikhlasan Sahabat Nabi
5 Kunci Hidup Ikhlas Seni Menemukan Ketenangan Batin dalam Islam
Mengapa Rasulullah Mencintai Hari Senin? Inilah Waktu Tepat Menebar Kebaikan!

Info Rekening Zakat
Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.
BAZNAS
